Nov 10
11
Midweek Motiflection : Polisi di Belakangku
Karya : Agnes Bemoe
Dua hal yang terhadapnya aku parno berat: parkir kendaraan dan menyeberang. Agak merepotkan memang, karena aku tinggal di kota yang minim tempat parkir dan jalan rayanya padat luar biasa, sementara jembatan penyeberangan tidak terlalu banyak.
Hari itu, jadwalku ke BCA –kegiatan sebulan sekali yang harus kulakukan-. Karena area parkir di BCA ini sangat sulit buatku, maka aku biasanya parkir di Kantor Pos, di seberang BCA. Pikirku, daripada mobil orang bonyok karena kekikukanku, mending aku yang berkeringat dingin di jalan raya… Penyeberangan dari Kantor Pos ke BCA bisa juga kulalui dengan selamat (hehehe…). Kembali dari BCA kulihat jalan raya jadi jauh lebih padat. Aku tercenung di pinggir jalan, melihat kendaraan yang melaju kencang, tanpa mempedulikan isyarat tanganku untuk minta jalan.
Aku maju mundur mencari-cari celah agar bisa menyeberangn, namun tidak juga berhasil. Padahal aku berdiri di zebra-cross. Tapi, what the hell dengan zebra cross! Begitu pasti pikir semua pengendara di kotaku ini… Hampir 30 menit sudah berlalu. Tapi, aku masih melekat di pinggir jalan raya Sudirman. Aku sudah terpikir untuk naik oplet, dan memutari jalan Sudirman itu sampai ke Kantor Pos di seberang, ketika aku merasa arus kendaraan agak melambat. Tanpa pikir panjang cepat-cepat aku memanfaatkan kesempatan! Dengan langkah sepanjang mungkin aku berjalan melintasi zebra cross itu. Dan, ajaibnya, kendaraan sepertinya sangat bersahabat padaku saat itu. Aah… syukurlah…
Aku hampir sampai di seberang jalan, ketika aku menyadari sesuatu: di belakangku berjalan seorang polisi, masih muda, dengan membawa senjata laras panjang. Dan yang membuat aku terheran, begitu aku sudah sampai di seberang, polisi muda itu berbalik, dan kembali ke seberang jalan yang satunya. (Di sebelah BCA memang ada pos polisi). Beberapa saat baru aku ngeh. Polisi tadi tidak berniat buat nyebrang. Kalau dia memang mau menyebarang, mengapa mesti kembali lagi ke posnya di tengah jalan begitu? Dengan kata lain, dia cuma mengantar aku untuk nyebrang! Pantas, kendaraan langsung melambat pada saat itu! Mereka memperhatikan polisi di belakangku, bukan aku!
Sedetik aku merasa malu berat! Aduh, aku ini kaya’ nenek-nenek yang harus dituntun buat nyebrang! Memalukan sekali! Tapi, sedetik kemudian, aku juga merasa berterima kasih sekali pada polisi itu. Mungkin dia melihat aku terpaku di pinggir jalan, dan berinisiatif untuk membantu. Aku hargai sekali inisiatif polisi muda itu! Oh, ya, usianya kalau tidak salah masih muda sekali, seumuran dengan muridku. Badannya tinggi, agak kurus. (Mudah-mudahan suatu saat aku bisa ketemu, dan bilang terima kasih secara langsung…)
Sampai di rumah, setelah lepas dari perasaan malu dan perasaan-perasaan impulsif lainnya, aku mulai merenungkan: mungkin begitulah Tuhanku terhadapku. Ketika dilihatnya arus kendaraan kehidupanku begitu padat dan tak mampu kutembus sendiri, Dia berdiri tepat di belakangku, dan mengantar aku hingga sampai di seberang jalan. Aku tak menyadari kehadiran-Nya, namun, aku merasakan perasaan aman yang diberikan-Nya.
Sama seperti menyeberang (dan parkir), hidup terkadang begitu menakutkan buatku. Apa aku bisa? Apa aku sanggup? Aku melambai “minta jalan”, tak juga ada yang memberi. Tapi, penyeberangan hari itu seperti memberi tahu sesuatu: Dia tahu kapan saatnya bertindak. Yang perlu aku lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin di zebra cross-ku.
Sampai saat ini aku berterima kasih pada Bapak Polisi itu untuk dua hal: untuk membantuku menyeberang, dan untuk membantuku menyadari kehadiranNya dalam hidupku. (db)
Pekanbaru, 9 November 2010

PAKET ULTAH MOTIFLECTION KE-2
Klik di 



