Mar 11
8
Jangan Hanya Melangkah, Tetapi Lompatlah!
Merancang hidup itu tidak seperti merancang bangunan yang harus dilakukan langkah demi langkah. Sementara dalam hidup, kita tidak hanya boleh melangkah tetapi harus MELOMPAT.
(dikutip secara bebas dari acara serial film How I Met Your Mother)
Mungkin ada beberapa yang belum atau jarang nonton film seri How I Met Your Mother. Tidak masalah, saya juga jarang sih… Tetapi ketika lagi santai kala itu, biasanya saya memang nangkring di stasiun televisi yang berlambang bintang dan pas lagi menayangkan film tersebut. Saya tidak mengikutinya tiap episode, karena hanya mencari guyonan konyol semata yang menemani waktu senggang. Nah sampai ketemulah kalimat yang sudah saya tulis di atas. Rada terkesima juga sih sewaktu mendengar salah satu tokoh di film tersebut mengeluarkan quote seperti itu.
Kalimat tersebut dapat tercetus akibat tokoh utama dari film itu yang berpendidikan teknik arsitektur selalu berambisi mengejar karier sebagai arsitek yang berhasil. Tetapi yang didapatkan malah serentetan kesialan, sampai dipecat dari pekerjaannya sebagai arsitek di sebuah perusahaan. Ia merasa terpuruk dan seperti biasa konco-konco konyolnya menghibur.
Walaupun konyol tetapi seperti biasa film sitcom (komedi situasi) ala Amerika selalu cerdas dalam bahasa. Jadi terlontarlah pertanyaan temannya,
“Memangnya kamu harus jadi arsitek ya?”
“Iyalah jelas! Itu sudah keinginan yang dirintis sejak dulu!” jawab si arsitek tersebut.
“Hei…! Cobalah lihat kita-kita semua, si A dari dulu pengin begini ternyata sekarang jadi begitu. Si B ingin menjadi begitu, ternyata ia bahagia dengan begini. Jadi kalau tidak bisa jadi arsitek, kenapa harus terus berkutat di jalan itu?” tegur temannya.
Si arsitek merasa ia harus terus melangkah dalam perjuangannya sebagai seorang arsitek terkenal nan berhasil. Itu yang membuat ia bahagia. Tetapi ia disanggah lagi oleh temannya yang intinya selama ini si arsitek itupun juga tidak pernah bahagia selama mengejar kariernya sebagai arsitek terkenal. Juga ditambahkan bahwa dalam hidup kita tidak bisa terpaku kepada satu keinginan, karena banyak keinginan yang tidak tercapai sesuai harapan. Tidak bijak mengatur hidup sedemikian rupa hingga harus persis sama dengan rancangan yang sudah kita buat. Sontak temannya akhirnya mengeluarkan kalimat di atas tadi yang berbau arsitektur agar si arsitek ini mengerti :
“Merancang hidup itu tidak seperti merancang bangunan yang harus dilakukan langkah demi langkah. Sementara dalam hidup, kita tidak hanya boleh melangkah tetapi harus MELOMPAT.”
Seperti biasa, namanya film komedi, ya kalimat itu direspon dengan reaksi lucu. Si arsitek yang sedih seketika mencoba mengubah paradigmanya tentang obsesi sebagai arsitek, diikuti teman-temannya yang akhirnya juga ‘ngeh’ dengan kalimat itu dan melompat dari atap apartemen tempat mereka ngobrol ke atap apartemen tetangganya sambil merefleksikan arti kalimat itu hehehe….
Akhir cerita (film seri ini memang cerita yang beralur flash back) si tokoh utama yang awalnya kecewa karena tidak bisa jadi arsitek menuturkan kepada anak-anaknya jika ia akhirnya menjadi dosen arsitek. Tidak disangka dirinya justru bahagia dengan pekerjaannya bahkan bisa bertemu dengan calon ibu dari anak-anaknya di kampus tempat ia mengajar.
Mungkin agak sulit menginterpretasi quote yang sudah saya tulis tadi. Saya sendiri merasa kalimat di atas sangat luas maknanya tergantung dengan kondisi kita melihatnya. Yang jelas bagi saya sendiri mengartikannya dengan :
- Walaupun kita sudah merencanakan hal-hal yang ingin kita buat di kemudian hari, tetap kita harus ingat bila hidup memang tidak seperti merancang bangunan yang terjadwal dan tersusun dengan skema dari pondasi hingga atap. Deviasi (penyimpangan) dalam rencana kehidupan lebih banyak meleset dibandingkan angka deviasi dalam hitung-hitungan matematis. Jadi, kita sebaiknya siap dan tidak berkutat di satu jalan yang mandek. Kita harus meloncati beberapa tahap atau malah meloncat ke jalan lainnya yang belum tentu membuat kita sengsara.
- Kita jangan menyamakan hidup kita sebagai suatu rancangan bangunan yang jika terjadi kegagalan sedikit (atau banyak) maka akan menyebabkan kerugian, kekecewaan, kerusakan yang berat. Sedih, kecewa, marah, tentu boleh, tetapi jangan dipelihara hingga membuat pikiran kita bete dan tidak keruan seharian. Tenangkan pikiran dan selalu yakin bila banyak jalan menuju Roma yang bisa kita loncati tanpa harus merusak semua bangunan ide dan rencana kita.
- Mungkin fleksibilitas adalah kunci bagi kita di saat kita sudah terlalu terpaku dengan kondisi yang membosankan, kondisi yang sudah mentok alias tidak bisa berkembang lebih banyak, atau kondisi-kondisi yang membuat kita sudah mati gaya. Kembali lagi, jangan mematok otak kita dengan istilah ‘harus begini’, ‘harus begitu’, ‘musti!’, ‘kudu!’. Mematok pikiran kita harus bergerak seperti cetak biru sebuah disain bangunan itu justru mematikan kreatifitas yang bisa tercetus. Sering kita melihat contoh beberapa orang yang walaupun tidak berpendidikan tinggi tetapi bisa menjadi Vice President, juga mereka yang seharusnya punya kemampuan sebagai Vice President malah memilih untuk mengambil resiko sebagai seorang Entertainer misalnya. Ah… kenapa tidak boleh jika ternyata lompatan-lompatan yang membal ke mana-mana ternyata lebih menenangkan pikiran tinimbang berkutat dengan kekakuan yang menjemukan.
Hmmm… kira-kira dari saya itu saja, mungkin ada teman-teman yang juga ingin ikut menginterpretasikan kalimat di atas? Silahkan tulis, dan saya yakin semuanya patut kita refleksikan dan membuat kita tidak hanya sekadar berjalan tapi juga harus ingat untuk MELOMPAT!

PAKET ULTAH MOTIFLECTION KE-2
Klik di 

We provide various accessories made from high quality exotic stones
iklan terotasi secara acak