Sep 11
11
Motiflection : Another 9/11
9 September 2001 lalu saya serta beberapa rekan kerja sedang rapat dengan pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Rapat itu berlangsung sampai larut malam, sekitar pukul 21.00 sampai 23.00 masih di kantor juga. Kantor tempat saya bekerja memang seringnya rapat sampai panjanggg dan lamaaa karena materi yang dibahas dari beberapa divisi. Beberapa keputusan rapat sudah saya catat untuk dilaksanakan di kemudian hari di divisi saya saat itu.
Saat kami sudah mulai santai, gosip seputar pekerjaan, tiba-tiba boss saya ditelepon oleh boss dari perusahaan lain.
“Hah?! Amerika dibom?! Twin tower hancur?” pekik boss saya kaget.
Seketika itu juga kami mencari informasi melalui televisi di kantor, dan benar saja, Amerika baru diserang. Yang kami pikirkan kala itu adalah semua hasil keputusan rapat yang telah kami sepakati sepertinya tidak bisa dijalankan dalam waktu dekat, bahkan ada yang sepertinya harus diubah dan dipikirkan kembali. Boss saya pun langsung mulai meraba-raba apa yang bakal tersendat pada produk kami dan sedikit banyak pasti ada dampak kepada penjualan.
Walah… hasil rapat selama berjam-jam harus lenyap begitu saja karena kami harus menunggu dampak dari kondisi kejadian serangan 9/11 itu. Jika saya dan teman-teman kala itu harus mengalami kegagalan rencana dan harus menyusun rencana baru lagi, apalagi mereka yang menjadi korban di serangan 9/11 itu. Para korban dan keluarga korban yang hatinya hancur serta sakit pastinya lebih tidak mudah untuk segera pulih dan merencanakan hal-hal kehidupan selanjutnya. Tetapi bagaimanapun life must goes on bagi manusia bijak dan normal, jadi untuk terus hidup harus tetap membuat rencana-rencana selanjutnya.
Dinamisnya gerak kehidupan memang membuat kita terkadang tidak bisa berpegang pada sebuah rencana yang sudah disusun. Banyak perubahan yang membuat kita harus segera menyesuaikan diri, merombak, dan itu tidak mudah bagi mereka yang senang pada kehidupan yang serba teratur dan terencana. Sekarang ini ketika saya disibukkan oleh seorang bayi kerap kali membuat saya harus mengubah banyak rencana dalam sekejap. Terkadang saya sudah berencana hari ini mau mengerjakan A, B, C harus tertunda karena anak yang kesulitan tidur atau saya yang malah harus istirahat ketika sudah terlalu letih. Hal itu berlangsung sepanjang hari karena bayi memang tidak bisa diajak kompromi untuk memikirkan rencana. Daripada menjadi pikiran dan bete, jelas saya mengalah dan mengikuti waktu yang berjalan begitu saja dan fleksibel untuk mengerjakan rencana-rencana yang tertunda atau malah yang harus dibuat baru.
Seiring pengalaman hidup, saya jadi terbiasa dengan perubahan rencana serta kegagalan rencana. Ada hal yang memang bisa saya syukuri karena walaupun rencana harus berubah dan gagal ternyata tetap membawa hikmah di masa depannya. Terkadang juga kalau sudah keluar malasnya, malah sengaja menunda-nunda rencana hingga hancur sendiri (tapi biasanya nyalahin orang hehehe…). Ternyata kita tidak akan pernah kekurangan waktu untuk menyusun dan menyelesaikan rencana-rencana. Justru kalau saya ngotot dan malah terpuruk dengan kegagalan dan uring-uringan dengan rencana yang tidak sesuai, malah membuat saya tidak bisa hidup nikmat.
Kita sudah sering membaca kalimat-kalimat penghiburan seperti, masih ada hari esok, atau juga manusia berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Ada juga yang berprinsip hidup mengalir saja seperti air yang berarti tidak terlalu memaksakan diri untuk hal-hal yang malah menyulitkan kehidupan sendiri akibat perencanaan. Namun demikian, manusia adalah makhluk perencana agar hidup lebih terarah. Tetapi ingat manusia pun makhluk penghancur rencana (entah rencana sendiri atau rencana orang), jadi biarlah grafik hidup itu naik turun.
Grafik kehidupan naik turun masih lebih baik daripada garis lurus atau flat (rata). Akan banyak kejadian-kejadian 9/11 yang menggempur jadwal serta kehidupan kita di masa-masa mendatang. Ketika mengalami kejadian 9/11 pertama kita merasa terpuruk ternyata di kemudian hari kita akan menyadari karena kejadian itulah justru kita menjadi manusia yang lebih baik lagi perencanaannya di masa kini. Demikian juga yang akan terjadi pada kejadian 9/11 berikutnya dalam hidup. Jadi untuk membuat hidup lebih hidup dan tidak rata tentu penting untuk membuat rencana-rencana hidup, tetapi yang TERLEBIH PENTING lagi adalah tetap membuat rencana-rencana ketika rencana-rencana sebelumnya gagal. Dengan begitu, kita tidak terus selamanya menjadi korban 9/11. Kita pun pasti akan selamat dari kejadian 9/11 dalam hidup kita.

PAKET ULTAH MOTIFLECTION KE-2
Klik di 

We provide various accessories made from high quality exotic stones
